Asmat Tidak Menerima Organisasi Liar

12 Maret 2018 - 22:05:41 | 3159 | NASIONAL

DL/12032018/ASMAT

--- Setelah beberapa minggu berada di  Asmat untuk membantu penanganan gizi buruk di kabupaten di sebelah selatan Papua Barat, ternyata pihak berwenang hingga kini belum menerima laporan keberadaan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI).

Hal itu ditegaskan oleh Sekretaris Bakesbangpol (Badan Kesatuan Bangsa dan Politik) Kabupaten Asmat, Maximillian AX Apituley dalam rilisnya kepada detiklampung.com Senin 12 Maret 2018. “Hingga kini, mahasiswa UI itu belum melapor ke kami,” tegas Maximilllian. 
Padahal, kata Maximillian, pihaknya harus menjalankan tanggungjawab sebagai pengawas kegiatan-kegiatan organisasi-organisasi yang berada di Asmat. “Ini seiring dengan keluarnya surat pemberitahuan Nomor 300/136.b/Setda/II/2018 tentang berakhirnya ststus KLB campak dan gizi buruk di Asmat,” tambahnya.

Berdasarkan surat itu, sekretaris daerah kabupaten Asmat memerintahkan Bakesbangpol untuk melakukan pemantauan terhadap lembaga-lembaga swasta/LSM, maupun perguruan tinggi yang melaksanakan kegiatan di setiap distrik maupun kampung. Mereka ini wajib melaporkan kehadirannya di Asmat.
Merujuk pada laporan itu, selanjutnya Bakesbangpol akan mengeluarkan izin atau rekomendasi. “Bila hingga detik ini mereka belum melapor, kami himbau untuk segera melapor. Kalau tidak? Tentu mereka dianggap sebagai organisasi liar oleh Pemkab Asmat.” tukas Maximillian.

Maximillian menambahkan, ada beberapa LSM seperti Gabruk yang mengaku berada di Asmat. Namun hingga kini keberadaan mereka tidak jelas. Karena itu, “Bakesbangpol tidak mengakui keberadaan mereka. Dan segala pernyataan mereka akan kami minta pertanggungjawabannya.” Katanya.
Hingga kini organisasi yang secara resmi telah menjalankan aksi sosialnya di Asmat baru tiga organisasi, yakni Sekolah Relawan, Wahana Visi Indonesia, Baznas.

Ketiganya beroperasi di Agats. Selanjutnya Aksi Cepat Tanggap (ACT) akan berada di Agats pada minggu depan. “Dan BEM UI belum pernah ada di Asmat,” tegas Maximillian.   

Ditemui terpisah, tokoh masyarakat Asmat, Pastor Hendrik Hada, menyatakan kepada pihak-pihak yang datang hanya karena mencari popularitas politik lebih baik tidak usah datang.

Menurut Hendrik, masyarakat Asmat butuh kerja nyata bukan omongan saja. Karena itu dia mengecam bila ada pihak pihak yang menjadikan masalah di Asmat sebagai senjata politik untuk kepentingan politik semata. “Jangan politisisasi persoalan Asmat,” ungkapnya. (Lis)

foto. helath liputan6