X

*** TERIMA KASIH ANDA TELAH SAKSIKAN DETIKLAMPUNG STREAMING TV SETIAP HARI ***      *** Video on Demand kami siapkan atas saran & permintaan masyarakat pembaca setia detiklampung.com *      

Masyarakat pertanyakan Peran Pemerintah Tingkatkan Kualitas Guru

  • dibaca 1259 kali

    DL/13072017/JAKARTA

    ---- Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) Perwakilan Prov. Lampung,  Senator H. Ahmad Jajuli, S. IP,  M. Si melasanakan kegiatan Sosialisasi Empat Pilar yakni,  Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTS) Negeri Kota Agung Jl. Lapangan Hijau No. 02 Tanggamus, Campang Tiga, Kota Agung, Kab. Tanggamus Lampung., pada  17 Juni 2017.

    Empat Pilar tegak kokoh berdirinya negara-bangsa Indonesia, salah satunya  Pilar Pancasila. Timbul pertanyaan, mengapa Pancasila diangkat sebagai pilar bangsa Indonesia. Perlu dasar pemikiran yang kuat dan meraih dipertanggung jawabkan sehingga meraih diterima oleh seluruh warga bangsa, mengapa bangsa Dalam negri menetapkan Pancasila sebagai base kehidupan berbangsa dan bernegara. 

    Pilar / tiang penyangga suatu bangunan harus memenuhi syarat, seperti disamping kokoh dan mantap, juga harus sesuai dengan bangunan yang disangganya. Devocionario bangunan rumah, tiang yang diperlukan disesuaikan dengan macam dan kondisi bangunan.

    Bilamana bangunan tersebut sederhana tidak memerlukan tiang yang terlampau kuat, tetapi bila bangunan tersebut merupakan bangunan permanen, konkrit, yang menggunakan bahan-bahan yang berat, maka asas penyangga harus disesuaikan dengan kondisi bangunan dimaksud.

    Demikian pula halnya dengan base atau tiang penyangga salahsatu negara-bangsa, harus sesuai dengan kondisi negara-bangsa yang disangganya.
    Kita menyadari bahwa negara-bangsa Indonesia adalah negara yang besar, wilayahnya cukup besar seluas daratan Eropa yang terdiri atas berpuluh pelosok, membentang dari barat ke timur dari Sabang hingga Merauke, dari utara ke selatan dari pulau Miangas sampai pulau Rote, meliputi ribuan kilometer.

    Indonesia yaitu negara kepulauan terbesar pada dunia yang memiliki 19 000 pulau lebih, terdiri atas berbagai suku bangsa yang beraneka adat serta budaya, serta memeluk seluruh agama dan keyakinan, lalu belief system yang dibuat pilar harus sesuai dengan kondisi negara bangsa ini.

    Pilar Kedua yakni Pilar UUD 1945, kehidupan berbangsa dan bernegara bagi bangsa Indonesia adalah UUD 1945. Dalam rangka memahami dan mendalami UUD 1945, diperlukan memahami lebih dulu makna Undang-undang Dasar teruntuk kehidupan berbangsa dan bernegara dan prinsip-prinsip yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945.

    Tanpa memahami prinsip yang terkandung dalam Pembukaan ini tidak mungkin mengadakan evaluasi terhadap pasal-pasal yang memiliki dalam batang tubuhnya serta barbagai undang-undang yang akhirnya menjadi derivatnya.

    Selanjutnya,  Pilar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), mengapan founding daddies negara ini memilih Negera Kesatuan.
    Bentuk Negara contohnya konfederasi, federasi dan kesatuan, menurut Carl J. Friedrich, merupakan bentuk pembagian kekuasaan secara teritorial atau local division oif power. Beserta penjelasan mengenai bentuk-mentuk Pelosok tersebut.

    Dan,  Pilar Bhinneka Tunggal Ika, dimana Sesanti atau Semboyan Bhinneka Tunggal Ika diungkapkan pertama kali oleh MPu Tantular, pujangga agung Kerajaan Majapahit yang hidup dalam masa pemerintahan Raja Hayamwuruk, di abad ke empatbelas (1350-1389).

    Sesanti tersebut memiliki dalam karyanya, kakawin Sutasoma yang berbunyi Bhinna ika tunggal ika, tan hana dharma mangrwa, yang artinya Berbeda-beda itu, Satu itu, tak ada pengabdian yang mendua.

    Semboyan yang kemudian dijadikan prinsip dalam kehidupan dalam pemerintahan kerajaan Majapahit itu bagi mengantisipasi adanya keaneka-ragaman petunjuk yang dipeluk oleh kaum Majapahit pada waktu tersebut. Meskipun mereka berbeda petunjuk tetapi mereka tetap 1 dalam pengabdian.

    Dalam kesempatan tersebut dihadiri 150 anggota masyarakat,  Senator Ahmad Jajuli menerima berbagai macam pertanyaan dari para peserta, antara lain,  bagaimama peran Pemerintah dalam mengasah kemampuan para Guru agar menjadi Guru yang tepat bagi para Peserta Didik.

    Kemudian,  tentang pendidikan yang hanya diperuntukan bagi masyarakat yang mampu membayar lebih, untuk biaya pendidikan karena mereka mampu membayar, dan yang benar-benar memiliki kemapuan akademik baik dengan ekonomi lemah, sedangkan untuk warga negara yang biasa-biasa saja malah jarang tersentuh pendidikan yang memadai.

    Di era reformasi ini masyarakat terbantu Pendidikan Gratis untuk SD sampai dengan SMP, Kesehatan Jamkesmas, E-KTP, Raskin, PNPM, ada satu yang sangat memberatkan bagi masyarakat Akte Kelahiran. Persyaratan membuat surat permohonan yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri di Kabupaten/Kota hal ini sangat memberatkan bagi masyarakat yang ekonomi lemah untuk mengurus surat-menyurat, transportasi, agar pelayanan publik di dekatkan dengan masyarakat. 

    “Kami menyampaikan aspirasi ini agar ada solusinya,”ujar salah seorang peserta yang enggan disebutkan jati dirinya. 
    “Dan,  Kami mendambakan sarana transportasi sebagai sarana penunjang keberhasilan program pembangunan suatu daerah,” tukas peserta. 

    Bagaimana solusi dan peran Pemerintah terhadap para sarjana pemberdayaan para sarjana yang masih menganggur. 

    Padahal masih banyak para lulusan sarjana keguruan namun masih banyak yang menganggur. Sementara,  di pelosok negeri yang jauh dari perkotaan masih sangat dibutuhkan tenaga pendidik dan pengajar.

    Dua karakter utama lain yang harus muncul di panggung pendidikan formal anak yaitu orangtua dan guru. Karakter utama dalam drama pendidikan formal ini idealnya menjalin relasi positif – baik anak dengan orangtua, anak dengan guru, maupun orangtua dengan guru. 

    Sebagai sesama orangtua anak, membangun hubungan yang positif dengan guru akan memperlancar kerja sama kedua belah pihak dalam mengawal perkembangan belajar anak. 

    Saat hubungan positif dapat terjalin dengan baik, orangtua dan guru dapat bertukar informasi tentang anak dengan efektif, sebagai salah satu bentuk kerja sama tersebut.

    Hendaknya kegiatan Sosialisasi 4 Pilar seperti ini merupakan program berkelanjutan dan agar terus diadakan khususnya kepada masyarakat yang belum mengetahui tentang Konstitusi dan juga Peraturan Perundang-undangan.  (RYAN)

  • Berita Terkait

  • Besok, Jokowi Resmikan Ruas Tol Sabah Balau

    Apa Sich Indofood Liga 2 PSSI

    Untuk Pilgub, Demokrat Hanya Menjaring Cawagub

  • Belum Ada Komentar

  • Isi Komentar