X

*** TERIMA KASIH ANDA TELAH SAKSIKAN DETIKLAMPUNG STREAMING TV SETIAP HARI ***      *** Video on Demand kami siapkan atas saran & permintaan masyarakat pembaca setia detiklampung.com *      

Mustafa: Rugi Sekali Jika Mahasiswa Hanya Jago Teori

  • dibaca 1617 kali

    DL/13062017/Bandarlampung

    Untuk menjadi generasi yang berdaya saing, mahasiswa diharapkan tidak hanya berdiam diri dan hanya menjalankan aktivitas perkuliahan. Mahasiswa harus mampu mengembangkan diri secara nyata, memiliki kemampuan leadership dan aktif berorganisasi.

    Hal ini diungkapkan Bupati Lampung Tengah, DR. Ir. Mustafa yang menjadi nara sumber dalam diskusi publik yang digelar mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di gedung K FKIP Unila, Minggu, 11 Juni 2017 dengan tema Dari Pendidikan untuk Indonesia.

    “Rugi sekali jika mahasiswa hanya kuliah, datang ke kampus, belajar teori, mendapatkan nilai A tetapi setelah lulus tidak bisa apa-apa. Inilah yang harus diantisipasi. Menjadi mahasiswa harus cerdas di lapangan, di organisasi dan memiliki jiwa leadership," ungkap Mustafa.

    Diakui Mustafa, saat ini kualitas pendidikan di Lampung masih jauh dari provinsi lainnya di Indonesia. Ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi dunia pendidikan Lampung.

    Khusus di Lampung Tengah, lanjut Mustafa, berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Pertama, pembangunan moral lewat wajib baca Al-quran pada siswa-siswa Lampung Tengah.

    Lalu pemberian 200 beasiswa di Akademi Komunitas Negeri Lampung Tengah, beasiswa ke sejumlah perguruan tinggi di Lampung dan di luar negeri, pemberian insentif kepada 4 ribuan guru honor, pemerataan pendidikan dan pemberdayaan guru setempat.

    Disinggung terobosan yang akan dilakukan dalam menyongsong pendidikan Indonesia yang berkualitas, secara tegas Bupati Ronda ini mengatakan pendidikan Indonesia seharusnya lebih mengedepankan praktik dibandingkan teori.

    “Dengan ini pendidikan kita akan menghasilkan lulusan yang siap pakai atau siap kerja. Pendidikan kita seharusnya 70 persen terdiri dari praktik, sisanya 30 persen teori. Jika ini diterapkan Insya Allah pendidikan kita akan berhasil,” tandasnya.

    Diskusi publik yang dimoderatori Fajar, salah satu mahasiswa FKIP ini berlangsung interaktif dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan mahasiswa. (Ted)

  • Berita Terkait

  • Demo Pertanyakan Isu Setoran Proyek Dan Tugu Pengantin

    Butuh Koordinasi Dalam Pengalihan Kewenangan Pendidikan Menengah

    Kemensos Gelar Bimtek Kube Di Lampung

  • Belum Ada Komentar

  • Isi Komentar