Perangi Obesitas, Prodia Luncurkan Fat Loss Panel

23 Oktober 2018 - 03:01:55 | 25380 | KESEHATAN

DL/23102018/JAKARTA

----  Dalam upaya mendukung fokus Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengenai obesitas, Prodia meluncurkan pemeriksaan kesehatan berupa program pengendalian obesitas, yaitu Fat Loss Panel.

Peluncuran produk ini secara resmi dilakukan oleh Direktur Business&Marketing Prodia Indriyanti Rafi Sukmawati dan AVP Business&Marketing - Referral Lab Services Lies Gantini di Burgreens Eatery, Dharmawangsa.

Obesitas masih menjadi penyakit yang populer di tengah masyarakat. Sebuah penelitian menunjukkan hampir 22 persen masyarakat dunia diprediksi mengalami obesitas pada 2045. Dikatakan lagi bahwa 1 dari 8 orang akan mengalami diabetes tipe-2. Sebuah riset dari New England Journal of Medicine memperkirakan 10 persen dari populasi di dunia saat ini mengalami obesitas. Riset ini menunjukkan tingkat obesitas meningkat dua kali lipat di 73 negara.

Terdapat beberapa penyebab seseorang mengalami obesitas. Diantaranya adalah faktor genetik/ keturunan, gaya hidup tidak sehat seperti pola makan yang tidak seimbang, seperti tinggi kalori karena pengolahan yang dominan digoreng, tinggi karbohidrat sederhana seperti gula dan tepung, tinggi kandungan garamnya, juga rendah serat, serta kurangnya aktivitas fisik.

Melihat fenomena obesitas yang ada saat ini, muncul berbagai upaya yang dilakukan agar terhidar dari obesitas, yaitu program diet. Apakah tumpukan lemak di dalam tubuh benar-benar hilang dengan melakukan program diet tersebut?

Menjawab hal ini, Prodia meluncurkan program pemeriksaan Fat Loss Panel. Fat Loss Panel merupakan pemeriksaan kesehatan yang diperuntukkan bagi penyandang obesitas yang ingin tetap sehat dan terhindar dari risiko terburuk akibat obesitas.

Fat Loss Panel terdiri dari beberapa pemeriksaan yang dapat melihat kondisi kesehatan para penyandang obesitas yang nantinya akan melakukan program pemantauan dan konsultasi yang didampingi oleh dokter spesialis gizi dan spesialis kedokteran oleh raga dari Prodia Health Care.

Direktur Business&Marketing Prodia Indriyanti Rafi Sukmawati mengatakan bahwa Panel ini memang dikhususkan untuk para penyandang obesitas yang ingin mengembalikan berat badan menjadi normal.

Penurunan berat badan melalui Fat Loss Panel ini menitikberatkan kepada penurunan kadar lemak jahat di dalam tubuh, sehingga sangat berbeda dengan program penurunan berat badan lain.

Dengan mengikuti program Fat Loss Panel pasien akan terus didampingi oleh dokter spesialis gizi dan dokter spesialis kesehatan olahraga.

“Program ini akan personalized sifatnya. Karena setiap orang akan diatur masing-masing untuk pola makan dan pola olahraganya. Tidak hanya berat badan yang berkurang tetapi kita menjaga agar pasien tetap dalam kondisi prima.” jelasnya.

Menurut pandangan dokter gizi, diet boleh saja asalkan dilakukan dengan benar dan jelas yang berkurang adalah lemak. Diet untuk mengembalikan berat badan menjadi normal, boleh saja, tetapi harus dilakukan dengan cara yang benar.

Saat ini banyak orang menginginkan penurunan berat badan dalam waktu yang cepat, proses yang instan, tanpa memperdulikan efek bagi kesehatannya.

Padahal tubuh tetap memerlukan komposisi makanan yang sehat seimbang. Dalam sehari kita perlu asupan karbohidrat, protein, vitamin dari sayuran dan buah-buahan.

Hal yang bisa dilakukan adalah memiliki niat untuk berubah, memiliki pola hidup sehat, termasuk untuk pola makan dan pola aktivitas. Ada tiga komponen dalam pola makan yang baik, yaitu jadwal makan, pemilihan jenis makanan dan pengolahannya, serta jumlah yang akan di konsumsi.” tutur dr. Eva Kurniawati, M. Gizi, Sp. GK.

Fat Loss Panel terdiri dari pemeriksaan hormone, HbA1c, profil lemak, vitamin D25-hydroxy, hs-CRP, GPT, kratinin, urine rutin, tensi lingkar pinggang, BMI, EKG& Treadmill, konsultasi dokter gizi dan konsultasi dokter kesehatan olahraga.

Pemeriksaan ini dapat dilakukan oleh pria dan wanita. Pemeriksaan ini dapat dilakukan di Prodia Health Care Kramat dan Bintaro.

Prodia Health Care merupakan transformasi Laboratorium Klinik Prodia dengan layanan yang lebih lengkap, di mana menyediakan layanan non-lab seperti konsultasi dokter umum, dokter gizi, dokter spesialis kedoakteran olahraga dan juga layanan vaksin. Prodia Health Care memberikan layanan lebih dari sekedar laboratorium klinik.

“Kami berharap adanya pemeriksaan ini, benar-benar dapat membantu pemerintah dalam memerangi obesitas, sehingga tidak ada peningkatan jumlah penyandang obesitas kedepannya.” tutup Indriyanti.

Dalam rangka memperkenalkan Fat Loss Panel, Prodia menyelenggarakan event Prodia Fat Loss Challenge. Melalui proses seleksi Prodia telah mendapatkan 5 finalis dari 183 peserta yang mendaftar untuk melakukan program pemantauan hingga Desember 2018 mendatang.

Sebagai laboratorium Next Generation Provider dengan jejaring layanan pemeriksaan kesehatan terbesar di Indonesia, PT Prodia Widyahusada Tbk telah mengembangkan pemeriksaan berbasis genomic, yang dapat mendeteksi risiko penyakit yang kita derita melalui gen.

Inovasi-inovasi layanan juga telah dikembangkan Prodia, yaitu dengan meluncurkan e-Prodia, layanan digital yang memudakan pelanggan dalam melakukan pendafataran, pembayaran dan melihat hasil pemeriksaan secara online.

Selain itu, baru-baru ini Prodia meluncurkan Kontak Prodia 1-500-830 yang menjadi pusat informasi layanan seputar Prodia. 

Tentang PT Prodia Widyahusada Tbk.

Laboratorium klinik Prodia didirikan pertama kali di Solo pada 7 Mei 1973 oleh beberapa orang idealis berlatar belakang pendidikan farmasi.

Sejak awal, Dr. Andi Widjaja, MBA beserta seluruh pendiri lainnya tetap menjaga komitmen untuk mempersembahkan hasil pemeriksaan terbaik dengan layanan sepenuh hati.

Sebagai pemimpin pasar, sejak 2012 Prodia merupakan satu-satunya laboratorium dan klinik di Indonesia dengan akreditasi College of American Pathologists (CAP). Sehingga kualitas hasil tes dari laboratorium Prodia sejajar dengan laboratorium internasional.

Pada 7 Desember 2016, Bursa Efek Indonesia (BEI) meresmikan pencatatan saham perdana Prodia sebagai emiten ke-15 di tahun 2016, dengan kode saham "PRDA".

Dalam aksi korporasi itu, Prodia telah menawarkan saham perdana sebanyak 187,5 juta lembar saham. Dengan demikian, dana yang diraih dari penawaran umum perdana saham (IPO) perseroan mencapai sebesar Rp1,22 triliun.

Hingga saat ini, Prodia telah mengoperasikan jejaring layanan sebanyak 290 outlet, termasuk 141 laboratorium klinik, di 33 provinsi dan 121 kota di seluruh Indonesia, beberapa diantaranya merupakan Prodia Health Care (PHC) yakni layanan wellness clinic yang berbasis personalized medicine serta specialty clinics yang terdiri dari Prodia Children’s Health Centre (PCHC), Prodia Women’s Health Centre (PWHC) dan Prodia Senior Health Centre (PSHC). (Adv)